Selasa, 15 Mei 2012

Batombe Budaya Khas Masyarkat Nagari Abai



Doeloe, batombe menjadi penyemangat orang-orang yang sedang bekerja mengambil kayu di hutan untuk membuat rumah gadang. Kini, tradisi budaya ini tetap dilestarikan untuk acara pesta perkawinan, pengangkatan datuak, dan upacara adat lain, termasuk sebagai sajian khusus untuk rombongan wisatawan yang berkunjung ke Nagari Abai.

Jauh sebelum masa penjajahan Belanda, Nagari Abai masih begitu sunyi. Wilayahnya diselimuti hutan belantara berikut satwa liar yang hidup bebas di dalamnya. Penduduknya masih sedikit, hanya terdiri dari beberapa keluarga yang hidup rukun, tenang, dan bersahaja.

Suatu hari, pemuka adat, agama, dan tokoh masyarakat Abai berkumpul. Mereka membicarakan sesuatu `proyek' besar, yakni membuat rumah gadang (besar) pertama di Nagari Abai. Maksud dan tujuan pembuatan rumah gadang tersebut untuk menjaga keselamatan warga dari binatang buns, rumah tinggal, sekaligus tempat pertemuan, dan pusat seni dan budaya masyarakat Abai. Maklum meskipun hidup di pelosok, jauh dari keramaian, masyarakat Abai memiliki cara menghibur sendiri untuk mengusir sepi. Dalam pertemuan itu, mereka akhirnya mufakat untuk membuat rumah gadang. Bahan bakunya diambil dari hutan yang ada di sekeliling tempat tinggal mereka.

Pagi itu, Nagari Abai tidak seperti biasanya. Di tepi hutan, masyarakat berkumpul. Ada orang tua, muda-mudi, dan anak-anak. Semua nampak sibuk dengan tugas masing-masing. Kaum pria dewasa membawa alat-alat untuk menebang kayu. Mereka menuju hutan untuk menebang pohon besar secara bergotong royong. Sebagian lagi membersihkan batang pohon untuk dijadikan tiang. Batang pohon lainnya dipotong-potong menjadi balok, papan, dan sebagainya. Sementara kaum ibu menyiapkan makanan dan minuman ala kadarnya.

Tak terasa matahari sudah di atas kepala. Mereka pun beristirahat sejenak sambil menikmati makan siang bersama. Ketika itulah beberapa muda-mudi termasuk orangtua berpantun irama seperti sedang melantunkan lagu. Pantun yang mereka bawakan berisi kata-kata semangat. Kemudian mereka menari bersama. Tarian mereka energik. Pantunan dan tarian yang mereka bawakan itu kemudian dikenal dengan batombe. Mereka sengaja menampilkan batombe agar kaum pria yang sedang bekerja membuat rumah gadang kembali bersemangat mengambil kayu di hutan.

Saat mengambil kayu di hutan, ada kejadian aneh. Sebatang kayu usai ditebang tidak bisa ditarik untuk dijadikan tiang rumah gadang. Kemudian warga Abai menyembelih seekor kerbau. Akhirnya kayu tersebut bisa ditarik oleh beberapa warga Abai dengan menggunakan tali panjang. Sejak kejadian itu, dalam penyelenggaraan batombe selalu menyembelih kerbau atau sapi minimal seekor kambing. Kalau tidak dikenai denda adat. Dengan kata lain berhutang.

Setelah beberapa hari bekerja keras secara gotong royong, akhirnya rumah gadang yang diimpikan rampung. Masyarakat Abai pun bergembira dan bangga bisa menyelesaikan rumah gadang pertama di nagarinya.

Itulah makna sejati, awal kesenian batombe di Nagari Abai, yakni menyemangati orang-orang yang mengambil kayu di hutan untuk membangun rumah gadang pertama di Abai. Dewasa ini, rumah gadang tersebut menjadi rumah gadang terpanjang di Sumatera Barat yang dikenal dengan sebutan Rumah Gadang 21 Ruang.

Kini batombe mengalami perubahan makna. Maklum semenjak tahun 60-an, sudah tidak ada lagi pembangunan rumah gadang di daerah ini. Kendati begitu tradisi batombe tetap dilestarikan, namun dipakai untuk hiburan pada pesta perkawinan dan upacara-upacara adat lain yang dalam penyelenggaraannya minimal membantai seekor jawi (sapi). Dan kini batombe pun menjadi suguhan khas kesenian lokal untuk para wisatawan yang berkunjung ke Nagari Abai.

Ajang Cari Jodoh

Menurut buku profil Budaya dan Pariwisata Kabupaten Solok Selatan, hasil kerjasama Bapedda Solsel dan Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisi Padang, batombe adalah salah satu bentuk kesustraan Minangkabau yang dimiliki oleh masyarakat Abai. Batombe ini adalah sejenis pantun yang berfungsi sebagai sebuah ungkapan rasa dan perasaan hati yang memiliki makna yang sangat mendalam bagi masyarakat Abai. Dengan kata lain batombe merupakan seni berbalas pantun antara pria dan perempuan yang kemudian menjadi budaya Minangkabau yang sakral. banyak keunikan di dalam batombe, salah satunya adanya kesempatan seorang pemain batombe untuk mendapatkan jodoh dengan cara membalas pantun secara spontan.

Seperti sore itu, ketika beberapa orang Jakarta berkunjung ke Nagari Abai. Batombe pun disajikan di dalam Rumah Gadang 21 Ruang yang masih berdiri kokoh. beberapa warga nampak berkumpul di depan rumah gadang yang berada di tepi jalan utama. Tak berselang lama, warga yang datang semakin banyak. Mereka berdatangan setelah mendengar ajakan tokoh masyarakat lewat pengeras suara untuk berkumpul di rumah gadang tersebut.

Di ruang dalam Rumah Gadang 21 Ruang, juga sudah ada beberapa warga Abai, baik orang tua maupun anak-anak. Beberapa orang terlihat sibuk mempersiapkan alat pengeras suara yang akan dipergunakan untuk para pelantun batombe.

Di ruangan khusus yang digunakan untuk pertunjukan batombe dihias sedemikian rupa. dinding dan plafonnya dilapisi kain bermotif kotak, segitiga, dan garis berwarna merah, kuning, hijau, putih, biru dan hitam. Bagian atapnya dihiasi potongan-potongan kain yang menjuntai ke bawah dengan warna-warni cerah. Begitu pun pintu masuknya diberi hiasan kain berbentuk pintu melengkung aneka corak dan warna meriah. Sedangkan sebuah tiang kayu yang ada di tengah ruangan itu, dibiarkan telanjang apa adanya.

Di dalam ruangan yang diberi lampu penerang listrik itu, juga sudah berkumpul para pemain batombe dan warga Abai. Mereka duduk bersila dengan tenang di atas lantai beralas tikar berwana cerah pula. Para pemain batombe mengenakan pakaian khusus, sepintas mirip pakaian pemain pencak silat. Bedanya, pakaian berlengan panjangnya diberi motif sulaman benang emas di bagian leher dan lengan. Warna pakaiannya pun bermacam-macam, ada merah, hijau dan hitam yang dilengkapi ikat kepala berwarna kuning keemasan serta sehelai kain yang diikatkan dipingang. Sedangkan celana panjangnya dirancang komprang atau lebih besar pada bagian pahanya, seperti sarung.

Tak lama kemudian tokoh masyarakat setempat memberi sambutan sebagai pengantar sekaligus ucapan selamat datang kepada para tamu. Lalu para pemain batombe saling berpantun irama dengan menggunakan bahasa daerah setempat. Isinya tentang kisah nasihat orangtua kepada anak, pergaulan, percintaan, dan sebagainya. Pantun ini dilakukan secara bergantian. pertama dilakukan olek pria kemudian disusul wanitanya. Sayangnya dalam pertunjukan ini tidak ada sinopsis yang menceritakan tentang isi pantun tersebut. Alhasil, tamu dari Jakarta yang tidak mengerti bahasa setempat kesulitan menangkap isi pantun.

Usai berpantun, kemudian para pemain batombe keluar dari ruangan, diikuti warga dan tamu yang hadir. Di luar Rumah Gadang 21 Ruang, hari sudah gelap. Lampu listrik yang ada di ruangan dalam pun dipindahkan ke luar sebagai penerang, begitu juga alat pengeras suaranya yang kemudian ditempatkan di alas meja kayu. Beberapa warga Abai sudah sedari tadi berkumpul. Mereka begitu antusias menyaksikan sajian batombe selanjutnya. Maklum mereka jarang mendapat hiburan, wajar kalau setiap ada penyelenggaraan batombe selalu ramai disaksikan warga Abai. Seperti malam itu, mereka ada yang duduk dan berdiri di pintu masuk, di tepian, dan luar pagar rumah gadang. Beberapa orang lagi menyaksikan batombe dari dalam rumah gadang lewat jendela yang bertirai kawat hitam.

Tak lama kemudian, sembilan pria dan tiga orang perempuan pemain batombe membentuk lingkaran. Satu orang pria lagi berada di tengah lingkaran sebagai penyanyi. Kemudian mereka melakukan gerakan berputar dan kemudan berbalik namun tetap dalam bentuk lingkaran sambil bernyanyi. Gerakan penari lelaki sesekali memukul bagian celananya yang komprang dengan kedua tangan seolah bertepuk tangan sehingga menimbulkan suara khas, bugh-bugh-bugh.

Semakin lama gerakan mereka semakin cepat dan dinamis. Warga yang menyaksikan batombe semakin hanyut. Beberapa bocah laki-laki dan perempuan turut bernyanyi dan mengikuti gerakan pemain batombe. Bukti bahwa mereka ikut terhibur dengan sajian batombe. Dan kelak, bisa jadi bocah-bocah itu menjadi pemain batombe selanjutnya. Secara keseluruhan batombe memang menarik dijadikan suguhan bagi rombongan wisatawan yang berkunjung di Nagari Abai.

Namun yang perlu diperhatikan, durasi berpantun dan menarinya jangan terlalu panjang agar tidak membosankan penonton. Selain itu, sebaiknya dalam pementasan batombe disertai dengan penterjemah dan sinopsis berbahasa Indonesia maupun Inggris yang menjelaskan mengenai sejarah batombe dan isi pantunnya yang dibagikan kepada wisatawan. Lebih baik lagi kala sinopsisnya itu dibuat beberapa versi bahasa asing lain sesuai dengan asal negara wisatawan yang datang secara individu maupun rombongan.

Tips Perjalanan

Untuk melihat kesenian batombe ini kita bisa berkunjung ke Rumah Gadang 21 Ruang yang berada Nagari Abai, Kecamatan Sangir Batang Hari, Kabupaten Solok Selatan, Sumatera Barat. Dahulu untuk menuju daerah ini masih banyak mengalami kesulitan lantaran jalannya belum beraspal. Kini, kondisi jalannya sudah baik dan bisa dilalui oleh kendaraan beroda empat maupun beroda dua. Kalau Anda berangkat dari Jakarta, ambil pesawat tujuan Padang. Dari Bandara Internasional Minagkabau (BIM), Kota Padang, Anda bisa mencarter mobil travel ke Padang Aro, Ibukota Kabupaten Solok Selatan. Selanjutnya ke Nagari Abai sekitar 30 Km dari Padang Aro.
Sumber: Majalah Travel Club


Tidak ada komentar:

Posting Komentar